KEKASIHKU
BUKAN JODOH YANG TUHAN GARISKAN
Pernahkan
kalian berkhayal tentang kisah romeo dan Juliet ? pernahkan kalian berkhayal
tentang kita dan pasangan kita akan bahagia suatu hari nanti. Mungkin aku juga
demikian, sama seperti kalian, mendambakan suatu pernikahan dan ikatan janji
suci dengan yang aku cintai. Bertahun-tahun melalui banyak rintangan yang
mungkin sama seperti yang kalian rasakan. Problem yang sering kita dengar
mungkin tidak jauh dari restu orang tua, jarak pasangan yang istilah bekennya LDR ato long distance reliationship, perbedaan agama, terhalang adat
budaya, dan yang lainnya dari bumbu-bumbu ego masing-masing. Dan aku Rossa 22
tahun, yang memiliki pasangan yang sangat aku cintai, juga merasakan banyak sekali
problematika cinta yang sangat berat bagiku.
Adit
, yah Adit nama lelaki yang mewarnai hidupku dengan berbagai dimensi yang dia
miliki. Dia bukan sosok lelaki yang seperti aku idamkan, bukan lelaki yang
cerdas , tampan atau pun anak dari konglomerat. Kenapa? Tidak ada yang menarik
bukan? Yah itulah kenapa hidupku sekarang berubah menjadi orang yang selalu
berfikir simple. Kami pacaran dari
sejak kuliah, dimana saat itu aku tak sengaja bertemu dengannya di kantin
kampus. Saat itu aku duduk sendiri dengan sibuk mengetik tugas yang udah
membutakan sekilingku, saat itu benar-benar aku harus mengejar waktu dan
kemudian “tap…” laptopku lowbat dan
aku hampir gila karenanya “ya Tuhan, kenapa harus sekarang??” tak sadar aku
berteriak, dan kemudian lelaki didepanku bertanya “kenapa mbak?” aku pun masih
dengan kedaan panik “ Laptopku mati, dan aku nggak bawa charger. . . aku harus
presentasi hari ini “ tanpa sungkan lelaki itu menarik latopku “oh ini sama ma
laptopku, ini ada chargerku . . pakailah “ hatiku seketika tenang dan langsung
menerima tawaran itu “ beneran nggak
papa nih? Pinjam bentar yah. . makasih
banget tawaranya” dengan tak menunggu lama aku langsung menancapkan kabel charger
ke latopku dan aku menulisnya kembali. Mungkin saat itu aku terlalu lama , dan
tak menyadarinya tiba-tiba sudah saatnya aku masuk kuliah dan presentasi. Aku
terlalu asik mengerjakan tugasku, tanpa aku sadari lelaki itu pergi dan
meninggalkan kertas bertuliskan “ Maaf, aku harus kuliah. . . dan kamu masih butuh chargerku. Jika ingin
mengembalikan cari aku di lab computer lantai 5 , bilang aja cari Adit “ baru
saat itu aku ngerasa ada orang yang belum aku kenal sudah percaya sama aku.
Presentasi
pun sudah kelar, dan waktunya kembalikan charger ini ke empunya, lab computer
lantai 5 tak begitu jauh dari fakultasku. Sesampainya di depan lab aku bertemu
dengan banyak anak jurusan IT “ mas, boleh nanya? Bias ketemu dengan Adit ?”
lelaki dengan ID card anak lab itu pun memanggilkan Adit. “ Hai? Uda selesai
presentasinya?” aku pun terkejut tiba-tiba dia ada disampingku “ emm. . .
udah.. makasih yah.. namaku Rossa, anak Akuntasi “ dia pun menyambut tanganku “
aku Adit, pastinya kamu tau aku anak IT “ semenjak itu lah kami saling kenal
dan bertukar pin BB. Pastilah kalian tahu, gimana ada kesempatan, disitu ada
kesempatan orang mikir kita itu jodoh. Dan akhirnya kita jadian, entah kenapa
aku bias nyaman dengan Adit. Mungkin bagi orang lain,dia anak yang bias
dibilang sangat biasa saja dibandingkan dengan mantanku yang super famous.
Terus apa yang aku banggakan? Hei ketika itu aku tak ada pikiran untuk
membangkan seorang pacar, aku rasa tak perlu hal itu terjadi. Adit merubah
hidupku, dia lelaki yang paling super duper sabar dalam hidupku. Mungkin karena
faktor dia lebih tua 2 tahun dariku, jadi dia bias “ngemong” aku. Sekalipun
adit orang yang cuek banget dan nggak peka sekali sama cewek. Nggak tau kenapa
ini jadi bikin aku gemes sendiri sama hubunganku. Dia bukan orang yang
romantis, bahkan saat ulang tahunku dia hanya mengucapkan selamat di bbm , dan
itu emang bikin aku kesal, tapi gila memang aku mau bertahan demi cowok aneh
ini. Dia cowok yang nggak pernah sama sekali punya inisiatif untuk pacarnya
sendiri. Baginya kita sang cewek harus mau nggak mau ngomong cablak buat dia
bias gerak? Aneh banget kaya robot. Yang bikin aku nyaman sama adit itu, dia
sabaar banget, mau aku ngomel pedes mau aku cuekin dia bakal tetep bertahan
meskipun dia nggak mau ngalah dengan alasannya. Mungkin kaya gini orang lain
lihat Adit cowok yang nggak banget kan? Tapi tidak bagi aku, Adit selalu punya
banyak ide buat mecahin masalah kita, dia cowok yang cerdas dan bijak dalam hal
ini. Perlu ekstra sabar memang buat jadi cewek yang punya tipe cowok yang macam
Adit. Tidak terasa tiga tahun sudah kita pacaran, dan akhirnya kita lulus
kuliah. Dengan amat terpaksa kita harus berpisah jarak antara bali dan Jakarta.
Aku harus rela terpisah jarak yang membuat aku tersiksa rindu, dibalik sosok
Adit yang menyebalkan tapi sebenarnya Adit juga manusia yang bias rapuh. Adit
mempunyai riwayat sakit Asma yang udah tergolong parah banget, dia tak bias
lepas dari obatnya. Dan aku tidak bias harus egois untuk memaksa Adit ikut aku
ke Jakarta, sedangkan Adit harus selalu dalam pengawasan dokter.
Suatu
ketika dulu saat kami masih kuliah, tiba-tiba Adit terserang asma, dan temannya
bbm aku saat aku UAS “ Ross, Adit sakit. .
kamu dimana? Kita lagi ada di kelas C computer “ tak berpikir panjang
aku pun lari sekuat tenaga menuju tempat Adit. Aku hanya bisa menangis melihat
Adit berwajah pucat dengan keringat bercucutran dikeningnya, badannya dingin
dan dia pun memejamkan paksa matanya dengan merintih kesakitan, aku hanya
berdiam kaku berdiri diantara teman-temanya dan Adit yang mengerang kesakitan.
Saat itu aku tau, Adit yang selama ini aku lihat cuek ternyata dia sendiri
butuh sekali perhatian. Dan saat itulah aku berfikir untuk lebih tenang dalam
menghadapi Adit, dan sekarang aku harus kuat terpisah jarak oleh Adit. Aku
tidak bisa egois, aku juga harus berfikir tentang keadaan Adit.
Berat
memang menjalani hubungan dengan terhalang jarak, dan kita harus berfikir
bagaimana kita bertahan. Saat itu pun aku ingin menyerah, namun aku tak bisa
lepas dari Adit, pernah suatu ketika temen Adit bertemu denganku, namanya
Rangga. Dia memang teman Adit, tapi bukan bagian dari sahabat-sahabat Adit.
Rangga tiba-tiba nyeletuk tentang aku “kamu hebat ya Ross, kamu masih bisa
bertahan dengan Adit. Padahal anak-anak sering melecehkan kamu” aku pun
tersentak kaget, apa maksud Rangga , “ emmMaksd nya. . apa Ngga? Aku nggak paham” dan Rangga pun
langsung berubah heran , “ kamu nggak merasa anak-anak sering bicara tentangmu
?” aku pun makin penasaran “ tentangku? Kenapa?” Rangga lalu bercerita tentang
sahabat Adit, ternyata selama ini sahabat Adit memandangku sebelah mata, dan
Adit selalu menutupi hal itu. Memang sih sahabatnya Adit tu deket ama mantan
Adit, karena cewe itu adalah salah satu dari sahabat mereka dulu. Mantannya
Adit meninggalkan Adit karena dia sakit, dan Adit diangapnya cowok lemah, dan
cewek itu selingkuh dengan cowok yang katanya sih tajir. Rangga pun heran
dengan pemikiran sahabatnya Adit “ Aku heran, padahal aku mengenalmu lebih baik
dari mantan Adit, tapi kenapa mereka selalu membandingkanmu dengan Lia? Mereka
terlalu egois” hatiku pun hancur mendengar kata-kata itu. Sesakit ini kah Adit
mengecewakanku, kenapa selama ini dia diam bahkan menutupinya dariku. Rangga
merasa prihatin denganku, dia menceritakan ini semua padaku, “ Adit juga pernah
kok dipaksa dating ke ulang tahun Lia, saat itu kamu diluar kota. Dan Adit pun
terpaksa dateng, karena mereka bilang Adit bukan sahabat kalo nggak dateng “
matau pun terbelalak mendengar ini semua, ya Tuhan. . . bagai disambar petir
disiang bolong di kala itu. Apa maksud dari semua ini, dan semua cerita itu pun
melekat erat di otakku saat Adit meng iya kan cerita Rangga, dia pun hanya
meminta maaf “Sayang, maafin aku dengan temanku, mereka hanya ingin aku
bahagia, tapi cara mereka salah. . ini
semua hanya masa lalu, jadi sekarang yang kit jalani ya sekarang yang kita
hadapi” kecewa dan sakit hati pun jadi satu. Bagaimana pun, kenapa Adit tak
membelaku saat itu. Kemudian keruhlah perasaanku sama Adit, tak aku sangka Adit
yang selama ini aku percaya ternyata menghinatiku. Sekalipun dia tak
menginginkan hal itu namun Adit tak bisa tegas dalam menolak kemamuan temannya.
Semenjak
saat itu hubungan kami merenggang, tak ada yang aku sesali. Entah seperti
takdir yang mengejutkanku saat itu, aku merasa kehilangan arah. Aku merasa
diriku kacau, dan aku melihat Adit menjadi sosok terburuk yang pernah aku
temui. Sekalipun Adit mencintaiku, tapi kenapa dia memilih diam. Banyak cerita
dibelakangku, Adit sering bertemu dengan Lia, dan itu karena disengaja oleh
temannya. Bayangan memori indah yang kami rajut selama ini bahkan menjadi
monster yang ingin aku musnahkan. Bagaimana bisa Adit diam selama itu, dan aku
tak aku bayangkan aku harus bahagia selama ini namun dibelakangku ada cewek
lain. Adit selalu meminta maaf padaku, tapi hatiku berat menerimanya.
Enam
bulan kami menjalani hubungan yang dingin ini, Adit menyesali perbuatannya,
tapi entah kenapa aku masih merasakan sakit. Adit berniat untuk melamarku saat
itu, dan aku pun bingung aku harus bagimana. Berat pula aku harus menerima, dan
berat pula aku harus meninggalkan Adit yang selama ini mengisi hariku. Adit
ingin aku kembali percaya padanya, dia mengajaku bertunangan bulan depan, dan
aku pun masih belum bisa menjawabnya, dia ingin mengulangi kisah kita dari nol
seperti pertama kali dia nembak aku, “ Sayang, aku tau aku pernah salah, aku
tau aku menyesal telah menyakitimu, mau kah kita mengulang kembali dan
perbaikinya, aku ingin melamarmu aku ingin bertunangan denganmu” dan aku pun
seperti berada diruang kosong yang meghimpitku. Entah apa yang terlintas di
bayanganku, “ Aku belum bisa jawab. .
aku ingin sebelum hari itu tiba aku ingin sendiri, aku ingin kita tanpa
komunikasi, jika nanti aku mau aku akan menjawabnya. Aku ingin menganggap
dirimu orang yang baru aku kenal, agar aku lupa dengan masa lalu kita” dengan
suara bergetar Adit pun menjawab keinginanku “ baiklah jika itu bisa membuatmu
lebih tenang aku tak apa”
Satu
Bulan kita tanpa komunikasi apa pun, aku pun tak merasa sedikitpun ingin cari
tau sedang apa dia disana. Aku merasa lebih tenang saat kami tak saling
berbicara, apa kah aku tak mencintainya lagi? Atau aku sedang merasakan dimana
aku tenang tanpa harus merasakan sakit hati yang selalu kami bahas disetiap
pertengkaran kami. Aku takut ini hanya sementara, dan disaat aku meninggalkan
Adit, aku akan merasa kehilangan. Hal ini akan lebih menyakitkan lagi buatku.
Hari demi hari aku jalani, saat itu aku sudah bekerja, dan aku merasa focus pada
kerjaku tanpa memikirkan Adit dan rasa sakit hatiku.
Sepulang
kerja, saat itu malam hari ada kontak baru yang mengundangku di BBM, ternyata
temanku saat masih SMP, namanya Dika. Dia bukan temanku sekolah, dia tetangga
dari temanku jaman SMP, kami lalu menegur sapa lewat BBM. Kita saling cerita
tentang masa bocah kita dulu, dan masalah kerja. Dia sekarang bekerja
diperusahaan asing di Singapore. Tak terasa setiap hari kami bbman, hingga
suatu hari aku memikirkan Adit, apa yang aku lakukan selama ini. Kenapa aku
lupa dengan Adit? Apa kah aku menghianati Adit? Aku selingkuh. Ketika itu aku
merasa aku telah berbuat salah. Tapi tiba-tiba Dika bbm aku “ Ross, apa kamu
nggak pernah jalan sama pacarmu? Perasaan kamu nggak pernah cerita tentang
pacarmu “ Aku baru sadar, aku tak pernah sekalipun mengingat Adit “ Aku sedang
nggak mau punya pacar, aku pengennya punya suami “ entah apa yang aku pikirkan,
kemudian tak lama Dika langsung merespon “ Aku boleh main kerumahmu Ross? Aku mau
pulang ke Indonesia minggu ini “ aku hanya berfikir Dika hanyalah teman yang
saat ini menjadi sahabatku “ iya nggak papa Dik, rumahku masih tetep kok, ingat
kan? “ dua hari kemudian Dika pulang, dan dia memenuhi janjinya untuk datang
kerumahku. Entah itu mungkin hari yang sangat amat tak terduga olehku. Dika
datang bersama orang tuanya, “ Maaf, aku kesini mengejutkanmu, tapi aku tak ada
waktu lama. Aku ingin melamarmu. Aku ingin menikahimu Ross, konyol memang. Tapi
aku ingin kita pacaran setelah menikah.” Waktu seakan terhenti dan disitu hanya
ada aku dan Dika, apa lagi ini? Bagaimana dengan Adit? Aku sama sekali tidak
ada rasa sama Dika? Tapi memang aku ingin menikah. Ibuku kemudian menariku ke
ruang tengah “ Ross, bagaimana denganmu? Entah kenapa ibu yakin denganya.
Lelaki ini begitu tulus memintamu Ross, ibu tak ingin kamu terluka dan hanya
menunggu hal yang tak pasti” pernyataan ibu membuatku semakin gila “ tapi bu,
Adit mau melamarku juga. Dia mengajaku tunangan bulan ini. Bagaimana dengan
Adit?” ibu memegang tanganku “ Dika memilih untuk menikahimu, bukan bertunangan
dan menunggu lama lagi untuk menikahimu. Dia menerimamu apa adanya. Ibu lihat
dia anak yang bisa tanggung jawab” serasa runtuh sektika hatiku, tapi ibu
benar. Adit hanya akan mengajaku bertunangan, dan Dika menikahiku dan ingin
berpacaran denganku saat menikah nanti “ baiklah bu, aku terima Dika. Tapi bagimana
aku harus bilang sama Adit “ ibu meyakinkanku “ Ibu yang akan biacara “
Hidupku
seperti dongeng yang dituliskan oleh Tuhan dengan scenario yang amat sangat
tak bisa aku duga. Seminggu hanya
seminggu kami menyiapkan pernikahan, Adit? Dimana dia? Harus bagaimana aku
menyampaikannya??...
Pada
hari pernikahanku, aku masih belum yakin, apakah aku mimpi? Atau berkhayal? Apa
kah ini semua jawaban dar doaku? Dimana aku ingin segera menikah? Namun kenapa
bukan dengan Adit? Apa ini jodohku.
Ijab
Kabul pun di ucapkan oleh Dika, sosok yang baru aku kenal lebih dalam yang akan
menjadi imamku, yakinkah ini?
Dalam
pesta pernikahanku yang sederhana ini, banyak yang bertanya tentang suamiku,
terutama temanku yang terkejut dengan ini, aku hanya bisa menjawab “ ini jodoh
dari Tuhan? Sapa yang tau” senyum tenang aku layangkan untuk semua tamu yang
datang, dan apa yang ku takutkan telah terjadi, Adit datang disaat waktu yang
tak tepat, dia berjalan menghampiri aku dan Dika, jalanya pun tampak lemas,
matanya brekaca-kaca, dengan bibir bergetar “ Ross, ini apa? Apa maksudnya ini?
Apa ini yang kamu balaskan untukku” aku terdiam membisu, dan begetar hatiku
melihat Adit yang begitu hancur di hadapanku. Adit pun tak kuat menahan ini semua,
hingga dia terjatuh, nafasnya pun tersengal-sengal. Kami seketika panic saat
itu. Adit pun di bawa masuk kedalam. Setelah pesta kami selesai, aku berlari
menemui Adit, dia pun baru sadar dan terus menangis “ Kenapa kamu tega
melakukan ini Ross, jadi selama ini kamu menjauh untuk ini?” aku tak tau harus
bagimana menjelaskan pada Adit, ibu datang dan menjelaskannya “ Jangan salahkan
Rossa dit, ibu tau kamu bakal terluka. Tapi ibu juga tak mau Rossa menunggu hal
yang tak pasti dengan perasaan yang selalu sakit hati. Dika datang dengan
membawa ketulusan, Dika dengan berani langsung melamar menikahi Rossa,ibu tak
mau membandingkanmu dengan Dika. Ibu tau kamu bakal sakit hati. Tapi jika Rossa
menunggumu, belum tentu nanti kalian menikah kan? Apakah kamu sudah member kepastian
pada Rossa? Sekarang Tuhan yang menentukan jodoh, mungkin Rossa memang bukan
jodohmu, lalu kau bisa apa dengan takdir ini “ gemetar jantungku mendengar
ucapan ibu. Selama ini Adit yang menemani hidupku, Adit yang membuatku
berubah,Adit yang aku cintai, dan Dika datang kemudian menjadi suamiku. Ini lah
takdirku?? Dan kemudian aku merajut hariku yang baru bersama Dika, yah selaknya
kita brepacaran jarak jauh, Dika kembali ke Singapore, dan aku memutuskan
tinggal di Jakarta, aku ingin merasakan rindu sama Dika. Aku pun tenang
meskipun kita jauh seperti saat aku dan Adit pacaran, namun ikatan pernikahan
melindungi kami dari segala keburukan. Aku mengerti sekarang, apa itu yang
namanya jodoh ada ditangan Tuhan, bahkan hidupku saat ini penuh dengan
kebahagiaan, aku merasa lebih tenang, tak ada ke egoisan, tak ada marah cemburu
dengan hal sepele, tak ada saling protective, tak ada saling mengungkit masa
lalu, Subhanallah. . . beginikah cinta yang dilindungi oleh ikatanMu ya Alloh.
. . aku bersyukur atas segala nikmatMU.
By
: Resti Eva Mayangsari

